Tampilkan postingan dengan label Novel Indonesia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Novel Indonesia. Tampilkan semua postingan

Selasa, 18 Juni 2013

Lukisan KematianLukisan Kematian by V. Lestari
My rating: 3 of 5 stars

Purnama (Pur) adalah seorang murid di Taman Kanak-kanak tempat Yani mengajar. Dibandingkan dengan teman-teman sebayanya yang lain, Pur terlihat sangat berbeda. Ia tampak seperti menyimpan sebuah trauma akan sebuah peristiwa yang menakutkan. Terdorong oleh nalurinya sebagai seorang guru, maka Yani yang merasa simpati kepada Pur pun melakukan pendekatan. Tak disangka ternyata Pur memiliki 2 orang ayah sekaligus. Erwin, ayah kandungnya yang tinggal di Medan dan Darmo, ayah tirinya yang kini merawat Pur. Sementara Rosa, ibu Pur meninggal dunia karena terjatuh dari balkon tingkat atas rumahnya. Selain dengan Darmo, Pur juga tinggal dengan Bu Imas, nenek tirinya. Dan selama ini Pur lah yang dituduh sebagai penyebab kematian Rosa.

Saat berkunjung ke rumah Pur, Yani melihat lukisan yang tidak biasa. Wajah mendiang Rosa di dalam lukisan tersebut mencerminkan sebuah ekspresi kematian. Hal ini tentu saja mendatangkan kengerian dalam diri Yani, terlebih lagi ketika secara naluriah ia selalu menatap karpet merah di bawah kakinya, yang kemudian diketahuinya bahwa ternyata di tempat itulah Rosa terjatuh dari balkon.

Tanpa disangka, ternyata Erwin dan Darmo sama-sama jatuh cinta kepada Yani. Dan entah kenapa pula Yani seakan tak mampu menolak keduanya. Melalui surat yang dikirim Erwin dari Medan yang menceritakan tentang situasi di rumah tua milik keluarga Pur, tumbuh keinginan yang begitu kuat dalam diri Yani untuk melihat-lihat dengan mata kepalanya sendiri. Ditambah pula dengan kesempatan yang ditawarkan Darmo kepadanya untuk menginap menemani Pur selama Darmo pergi keluar kota. Pada saat itulah Yani menemukan begitu banyak keanehan yang justru semakin menggugah rasa penasarannya.

Perkenalannya dengan keluarga Pak Muis, tetangga sebelah rumah Pur semakin melengkapi rasa penasaran Yani. Bukan tanpa sengaja Yani pergi ke sebuah pameran lukisan untuk bertemu dengan Sunaryo, sang pembuat lukisan kematian Rosa. Tanpa bermaksud untuk betindak sebagai detektif, berbagai peristiwa mengantarkan Yani pada suatu kesimpulan bahwa Rosa memang sengaja dibunuh. Meski dugaan Yani tentang siapa sebenarnya yang membunuh Rosa keliru, bahkan nyawanya sendiri pun hampir melayang, namun segalanya berakhir dengan baik.

Gaya penuturan khas V. Lestari. Menampilkan tokoh utama seorang wanita yang lembut namun memiliki karakter yang kuat. Konflik dibangun secara lambat namun menggemaskan.

I like it ??

-Miss Kodok.-

View all my reviews
Persembunyian terakhirPersembunyian terakhir by V. Lestari
My rating: 3 of 5 stars

Rita dan putrinya Novi tewas terbunuh. Danar, sang suami yang diduga sebagai pelaku menghilang tanpa jejak. Hingga 2 tahun kemudian, rumah tersebut dibiarkan kosong oleh pemiliknya, Bu Mangku. Keadaan tersebut menimbulkan ketidaknyamanan bagi warga sekitar terutama para tetangga yang rumahnya berdempetan dengan rumah tersebut.

Atas usul beberapa tetangga, walaupun tampak enggan, akhirnya Bu Mangku bersedia menyewakan rumah tersebut meskipun dengan harga sewa yang sangat murah. Adalah Lila bersama kedua temannya, Dewi dan Susan yang kemudian menyewa rumah tersebut melalui Bu Sanusi, tetangga yang rumahnya terletak di belakang rumah tersebut.

Keingintahuan Lila yang begitu besar akan peristiwa pembunuhan tersebut ternyata bukan tanpa alasan. Lila mempunyai hubungan khusus dengan Danar dan ia bertekad untuk menemukan Danar karena meyakini bahwa Danar tidak bersalah.

Mampukah Lila menemukan Danar ?
Benarkah Danar yang telah membunuh Rita dan Novi ?
Bersembunyi dimanakah Danar selama ini ?

Semua pertanyaan ini akan memenuhi benak kita sepanjang kita membaca buku ini. Memang ada beberapa hal yang kiranya mudah untuk kita tebak, tetapi ternyata dengan cerdik V. Lestari membuat kejutan dengan menghadirkan sang pembunuh yang sebenarnya, seseorang yang sama sekali tak terduga.

Merupakan ciri khas dari V. Lestari untuk mejadikan seorang wanita sebagai tokoh utama dalam setiap ceritanya. Dan kemampuan penulis dalam membangun konflik secara perlahan namun menggemaskan selalu mampu membuat pembaca untuk terus membaca dan enggan berhenti hingga akhir cerita. Ada sedikit keanehan yang kita temui dalam kasus kematian Rita dan Novi, bagaimana mungkin polisi tidak memeriksa setiap sudut rumah guna mencari petunjuk sehingga melewatkan sebuah lemari di bawah sofa meskipun lemari tersebut dalam keadaan tergembok dan menyebabkan suatu hal yang sangat penting sebagai petunjuk menjadi terlewatkan. Tapi bagaimana pun juga, buku ini layak diberi 3 bintang.

-.Miss Kodok-

View all my reviews
9 Summers 10 Autumns9 Summers 10 Autumns by Iwan Setyawan
My rating: 2 of 5 stars

Membeli buku ini sejak lama tapi entah kenapa belum tertarik untuk menyentuhnya hingga akhirnya buku ini diangkat ke layar lebar. Ketika filmnya tayang di bioskop, keinginan saya untuk melihatnya terbentur oleh karena belum membaca bukunya. Saya termasuk orang yang lebih memilih membaca dulu baru menyaksikan filmnya karena beberapa alasan:
1. Saya selalu khawatir tidak lagi memiliki semangat untuk membaca bukunya bila sudah melihat filmnya.
2. Saya pun selalu khawatir bila melihat filmnya dahulu, maka saya akan kehilangan gambaran tokoh sesuai imajinasi saya, karena yang terbayang tentu saja adalah tokoh yang digambarkan di dalam film.
untuk alasan itulah, maka saya pun mengaduk-aduk lemari buku saya mencari buku ini.

Bagian pertama buku ini menceritakan tentang tahun pertama keberadaan Iwan, Sang Penulis di kota New York ketika ia mengalami penodongan, dan disini pula untukpertama kali ia bertemu dengan seorang bocah laki-laki berseragam SD, putih-merah, seorang anak yang kemudian menjadi tokoh imajinernya. Tokoh yang membukakan kemampuannya untuk berkisah tentang masa alau dan segala rahasia hatinya.

Berangkat dari kehidupan yang serba kekurangan di kota Batu yang terkenal dengan sebutan kota apel, Iwan kecil memulai kisahnya. Bercerita tentang betapa sulitnya kehidupan yang harus ia lalui bersama keempat saudarinya di sebuah rumah sempit. Ayahnya hanya seorang sopir angkot yang menjadi keras karena tempaan hidup, namun cinta kasih yang menaungi mereka sekeluarga menjadikan mereka semua pribadi yang kuat dan pantang menyerah. Segala pengorbanan yang dilakukan orang tua beserta kelima anak-anak mereka telah membuahkan hasil yang membahagiakan. Kehidupan ekonomi mereka perlahan tapi pasti terangkat menjadi jauh lebih baik dari apa yang sekedar mereka harapkan, jauh dari sekedar apa yang dapat mereka impikan.

Sekilas buku ini tidak jauh berbeda dengan cerita Laskar Pelangi ataupun Negeri 5 Menara dimana dikisahkan tentang seorang anak yang bukan siapa-siapa, namun dengan berbekal semangat pantang menyerah bisa menjadi seseorang . Iwan hanya mencoba menampilkan kisah hidupnya dengan cara yang sedikit berbeda, juga dengan pemilihan kata (diksi) yang menurut saya agak kurang laki-laki.

Tidak dapat dipungkiri bahwa ketika kita membaca tulisan seseorang, secara nyata atau tidak, kita telah sedikit lebih mengenal karakter Sang Pengarang melalui tokoh yang terdapat di dalam cerita. Begitu pula dengan buku ini, semakin dalam kita memasuki cerita dalam buku ini, maka kita akan semakin mengenal karakter sang penulis, yang entah kenapa, ada satu sisi yang mengganjal perasaan saya.
Mungkin saja saya terpengaruh dengan begitu banyaknya percakapan dengan sang bocah imajiner dalam bahasa Inggris yang menjadikan sang tokoh utama tak lagi tampak sebagai seorang tokoh yang sederhana, dan sebutan-sebutan tempat ðï kota NewYork yang begitu banyak bertebaran dalam setiap lembar cerita, membuat saya sebagai pembaca merasa begitu terasing (entahlah bagi pembaca yang memang sudah pernah berkunjung ke NewYork dan mengenal setiap sudut kota tersebut), dan menjadikan sang tokoh menjadi kurang membumi di mata saya.

Kemudian ada suatu yang begitu mengganjal ðï benak saya ketika saya sampai pada halaman terakhir buku ini. Sang tokoh, yang ketika kecil harus bergumul dalam kesulitan dan keterbatasan ekonomi, sehingga begitu banyak keinginannya yang hanya menjadi sebuah keinginan, lalu kemudian meraih apa yang lebih dari sekedar apa yang berani ia impikan. Dan ketika ia telah memiliki kehidupan yang mapan, ketika ia telah menduduki jabatan yang menjadi impian begitu banyak orang, ia memutuskan untuk meninggalkan karirnya yang cemerlang hanya karena seringnya ia tersiksa kerinduan akan kota kecil dimana ia lahir dan dibesarkan. Padahal selama 9 musim panas dan 10 musim gugur telah mampu ia lewati dengan baik, masa-masa sulit diawal kedatangannya ke NewYork pun telah terlewati. Saya merasa ada yang kurang pas dengan pemikiran saya. Kemana sang tokoh yang telah tertempa dengan baik sejak kecil dalam mengejar semua mimpi-mimpinya ? Kemana sang tokoh yang telah bersusah payah mengejar mimpinya bila kini ia meninggalkan segala yang ia miliki hanya karena tak lagi tahan menghadapi kerinduan akan kota kelahirannya ? Ataukah jangan-jangan keputusannya meninggalkan apa yang telah diraihnya selama ini dikarenakan suatu hal yang harus dilakukan dengan terpaksa #nuduh.

Terlepas dari itu semua, toh itu hanya pemikiran saya seorang sebagai pembaca (dan bukan siapa-siapa). Iwan tentu punya alasan tersendiri. Dan terlepas dari apa pun juga, buku ini cukup layak untuk dijadikan sebagai buku referensi bagi orang-orang yang hampir kehilangan semangat untuk meraih mimpi mereka.

Dan ketika saya telah menyelesaikan membaca buku ini, maka saya telah kehilangan keinginan untuk menyaksikan filmnya di layar lebar.

-Miss Kodok.-

View all my reviews
Pendekar Bambu buku #2Pendekar Bambu buku #2 by V. Lestari
My rating: 3 of 5 stars

Kegelisahan Ninik akan keselamatan Tirto membuatnya memutuskan untuk kembali ke Jakarta lebih cepat dari rencana sebelumnya. Ditengah perjalanan, dengan meminjam telepon pada sebuah penginapan (cerita ini dibuat tahun 1988 dimana saat itu di negara kita belum ada telepon genggam), Ninik berhasil menghubungi Jakarta dan mendapatkan kabar mengejutkan tentang kematian Tirto. Kematian Tirto yang menurutnya tidak wajar semakin menguatkan kecurigaan Ninik akan keterlibatan Evita, istri Tirto, dalam kasus percobaan pembunuhan atas dirinya yang terjadi sepuluh tahun yang lalu. Tekad Ninik pun semakin kuat untuk membongkar segala kejahatan Evita.

Lebih mengejutkan lagi ketika tiba di Jakarta ternyata jenazah Tirto telah dimakamkan sehingga sulit bagi Ninik untuk menemukan bukti bahwa Tirto meninggal karena dibunuh. Satu-satunya orang yang diharapkan oleh Ninik untuk dapat membantunya, Slamet ternyata meninggal dunia sebelum Ninik sempat mengorek keterangan perihal kematian Tirto. Ninik kemudian meminta bantuan dr. Ikhsan agar bersedia membantunya untuk menggali makam Tirto guna melakukan otopsi. Kenyataan yang dikemukakan Ninik kepada dr. Ikhsan sebenarnya menyadarkan dr. Ikhsan akan adanya kejanggalan tersebut, namun enggan mengakui kelalaiannya, dr. Ikhsan justru menelpon dan memberitahu Evita tentang hal itu. Tak lama pun dr. Ikhsan meninggal dalam sebuah kecelakaan yang aneh. Lenyap sudah saksi-saksi yang diharapkan Ninik dapat membantunya mengungkap kejahatan Evita. Namun hal ini semua tidak menyurutkan tekad Ninik untuk membuktikan kesalahan Evita kendati ia harus berhadapan dengan seorang dukun dari Pasar Jumat.

Kisah yang menggemaskan untuk segera mengetahui bagian akhir cerita. Bagaimanakah kelanjutannya ?? Hmmm.... Gªќ sabar untuk segera mulai membaca buku ketiga...
Lanjuuuut....

-.Miss Kodok-

Pendekar Bambu buku #1Pendekar Bambu buku #1 by V. Lestari
My rating: 3 of 5 stars

Ninik Purwanti, seorang gadis cantik yang melalui masa kanak-kanaknya nyaris tanpa kebahagiaan. Ayah dan ibu tirinya tidaklah mempedulikannya, bahkan mereka seperti tidak pernah menganggap keberadaan Ninik. Ninik tumbuh menjadi gadis remaja yang rapuh. Keinginannya untuk menjadi artis telah dimanfaatkan oleh oknum yang tidak bertanggung jawab dengan merenggut masa depan Ninik. Akhirnya Ninik terdampar menjadi seorang perempuan simpanan seorang pengusaha kaya, Tirto Suryo. Ketakutan akan kehilangan Tirto, Ninik dengan sengaja membiarkan dirinya hamil dengan harapan agar Tirto ♏αΰ menikahinya secara resmi. Tetapi Ninik harus terkejut dan kecewa ketika menemukan kenyataan bahwa bagi Tirto, dirinya tidaklah lebih dari sekedar alat pemuas hasrat biologis Tirto. Tidak ada cinta untuk dirinya. Namun Tirto berjanji akan segera menikahinya setelah mendapatkan izin dari istrinya.

Harapan Ninik tinggalah harapan belaka ketika akhirnya ia justru hampir menjadi korban pembunuhan yang dilakukan oleh Irwan dan Kusno, keduanya adalah karyawan yang bekerja pada perusahaan milik Tirto. Takdir dan keberuntungan telah menyelamatkan Ninik dari kematian meski ia harus mengalami keguguran. Ninik yang pingsan di tengah hutan karet di Parung ditemukan oleh Pak dan Bu Jahri yang dikenal sebagai dukun di kampung tersebut. Ninik tidak hanya dirawat hingga sembuh oleh pasangan tua tersebut, tapi ia kemudian diangkat sebagai anak mereka. Melalui Pak Jahri, Ninik kemudian belajar mengenai obat-obat tradisional yang berasal dari berbagai macam tumbuhan yang dapat digunakan untuk menyembuhkan berbagai macam penyakit. Dan atas anjuran Pak Jahri pula Ninik belajar ilmu bela diri pada Ki Loreng.

Dari padepokan Ki Loreng, Ninik kembali memulai kisah cintanya dengan Rama, seorang pemuda yang berasal dari Cibinong. Berbeda dengan yang sudah-sudah, Rama mencintai Ninik dengan tulus, tak peduli betapa pun buruknya masa lalu Ninik. Sayang, hubungan mereka terhalang oleh orang tua Rama. Demi keselamatan Pak dan Bu Jahri, Ninik meninggalkan Parung dan kembali ke Jakarta, berusaha menghapus semua harapannya bersama Rama. Ia kemudian mengambil sekolah untuk menjadi seorang perawat.

Sepuluh tahun berlalu. Nasib kembali mempertemukan Ninik dengan Tirto. Kali ini dengan situasi yang sangat berbeda. Tirto mengidap kanker hampir di seluruh tubuhnya dan ia telah dinyatakan hanya memiliki waktu hidup kurang lebih satu bulan oleh dokter. Dokter Ikhsan yang merawat Tirto merekomendasikan Ninik pada keluarga Tirto untuk menjadi perawat Tirto. Dendam lama kembali muncul, Ninik merasa bahwa inilah saat yang ditunggu-tunggu baginya untuk membalas semua perlakuan Tirto terhadapnya.

Namun Ninik terkejut ketika Tirto mengatakan bahwa ia sama sekali tidak tahu-menahu tentang usaha pembunuhan terhadap Ninik. Naluri Ninik dapat mempercayai pengakuan Tirto. Meski secara naluri pula Ninik telah mengetahui siapa dalang dibalik usaha pembunuhan atas dirinya, Ninik harus berjuang untuk menemukan bukti. Ia pun bertekad untuk menyembuhkan Tirto dengan caranya. Usahanya membawa hasil, kondisi Tirto semakin membaik, namun sayang, usaha Ninik menjadi sia-sia ketika ada orang lain yang menginginkan kematian Tirto secepatnya.

Ciri khas V. Lestari adalah menghadirkan seorang wanita sebagai tokoh utama dalam ceritanya. Seperti biasa pula, V. Lestari selalu membangun konflik secara lambat tapi menggemaskan, sehingga ketika saya telah mengetahui kemana cerita ini akan berakhir, saya tetap membaca lembar demi lembar hingga selesai. Sampul bukunya menarik dengan judul yang bagi saya sangat menggoda. Cerita dalam buku ini belum selesai dan masih akan dilanjutkan dalam buku keduanya.

-. Miss Kodok.-

Kamis, 21 Maret 2013

Sebab Aku Burung FanaSebab Aku Burung Fana by Arini Hidajati
My rating: 3 of 5 stars

Hlm.17: Kematian bukanlah akhir dari segalanya, tapi kematian, inilah awal hidup. Disini baru kita mulai perjalanan yang sesungguhnya hidupnya ruh dan jiwa kita, maka hendaknya jangan dilalaikan.

Hlm.23: Kita harus bersyukur, bahwa segala bentuk ujian adalah rahasia bahasa cinta-NYA

Hlm.28: Sungguh celaka kiranya orang yang mencintai dunianya habis-habisan dan mengempitnya erat-erat seolah akan ia bawa mati dan akan ia gunakan untuk menyuap Tuhan atau untuk diselipkan di tangan para malaikat agar dibebaskan dari dosa-dosa, agar terlepas dari semua bencana akhirat dn kengerian hari akhir yang besar?

Hlm.62: Tapi apakah penderitaan yang merupakan isyarat Tuhan akan suatu kebahagiaan kita tafsiri sebagai malapetaka yang menimpa atau memang harus beginikah perjalanan hidup itu? Menyiksa hati dan pikiran kita dengan kekosongan dan ketidakpunyaan? Sementara kita lihat disana orang-orang mengisi hidupnya hanya demi hawa nafsunya, yang menggelapkan uang rakyat bermilyar-milyar, yang membagi-bagikan negeri ini layaknya roti milik mereka sendiri kepada orang-orang yang hampir muntah kekenyangan, tapi lalaikan orang yang hampir mati kelaparan.

Buku ini bercerita tentang sebuah kematian seorang rakyat kecil yang disiksa atas tunduhan telah mencuri kayu di hutan. Seorang rakyat kecil yang (mungkin terpaksa) mencuri karena tuntutan perut anak dan istrinya. Sebuah perlakuan semena-mena yang tanpa belas kasih dan rasa kemanusiaan.

Buku yang sarat dengan pesan moral ini tampaknya merupakan sebuah protes sang penulis atas segala ketidakadilan di negeri ini, dimana selalu rakyat kecil lah yang menjadi korbannya. Sementara para pejabat negara sibuk memperkaya diri sendiri dan golongannya. Mereka yang dipilih oleh rakyat, yang katanya berjuang untuk rakyat, justru tak lagi peduli pada rakyatnya, yang menjerit karena kehidupan yang tak layak dan karena perut yang lapar.

Melalui tulisannya, Arini ingin menggugah rasa kemanusiaan pembaca untuk kembali merenungi hidup dan kehidupan. Bahwa segala yang kita miliki di dunia ini hanyalah pinjaman semata. Tumpukan harta tak akan pernah mampu menyelamatkan kita pada hari pembalasan nanti. Akan ada pengadilan yang sebenarnya untuk setiap kecurangan dan kesewenang-wenangan yang terjadi di dunia. Dan bagi setiap manusia yang masih memegang kejujuran dan mendengarkan hati nurani, kematian bukanlah sesuatu yang harus ditakuti karena kematian hanyalah sebuah awal dari sebuah kehidupaan abadi di negeri-NYA.

Sebuah kisah sederhana dari sebuah cerita kehidupan yang rumit diramu Arini menjadi sebuah tulisan yang menarik. Namun pilihan kata (diksi) yang digunakan agaknya menjadikan buku ini bukan sebagai sebuah bacaan ringan yang bisa dinikmati sambil lalu. Dibutuhkan konsentrasi dan pemahaman yang mendalam. Dan 3,5 bintang rasanya layak untuk diberikan.

-.Miss Kodok.-

View all my reviews

Kamis, 10 Januari 2013

Misteri Gadis yang HilangMisteri Gadis yang Hilang by V. Lestari
My rating: 3 of 5 stars

Suwito dan Helen Wong adalah sepasang kekasih yang berbeda ras. Suwito seorang pemuda berdarah Jawa, sementara Helen adalah gadis keturunan Tionghoa. Empeh Wong, kakek Helen, seorang pembuat peti mati dan jago silat adalah seorang yang sangat dominan di dalam keluarganya. Sehingga Tuan Wong sendiri tidak mempunyai hak apa-apa atas keluarganya, termasuk tehadap Helen.

Sebuah kerusuhan berdarah yang berlatar belakang perbedaan ras telah merenggut nyawa Ben, anak kesayangan Empeh Wong, yang semula akan diwarisi ilmunya. Kekecewaan dan kemarahan Empeh Wong telah menumbuhkan dendam berkepanjangan sehingga ia menentang habis-habisan hubungan Suwito dan Helen.

Berbekal janji untuk menghadapi semua rintangan yang menghadang, Helen memutuskan untuk meninggalkan keluarganya dan pergi bersama Suwito. Kepergian Helen membuat gusar keluarganya, Mereka menuduh keluarga Suwito lah yang menyembunyikan Helen. Namun ternyata Helen tidak pergi menemui Suwito. Suwito yang juga tidak mengetahui keberadaan Helen, menjadi begitu cemas dan kalut. Lalu kemanakah Helen pergi... ?? Sementara permusuhan yang terjadi diantara keluarga Helen dan keluarga Suwito semakin meruncing. Masing-masing saling mencurigai telah menyembunyikan Helen.

Cinta Suwito kepada Helen begitu besar, meski setahun telah berlalu ia tak lantas menyerah dan melupakan Helen. Ia tetap mencari dan berharap suatu saat kelak Helen akan muncul kembali. Suatu hari Suwito bertemu dengan seorang gadis yang begitu mirip dengan Helen. Heny ternyata adalah adik kandung Helen yang selama ini bermukim di Bandung. Rasa sayang dan kehilangan yang mereka rasakan terhadap Helen telah menumbuhkan kedekatan diantara mereka. Tanpa mereka inginkan, cinta tumbuh dan bersemi diantara mereka, namun demi menjaga perasaan mereka terhadap Helen, mereka sepakat untuk tidak membiarkan perasaan itu terus tumbuh dan berkembang.

Heny memiliki sifat yang bertolak belakang dengan Helen. Helen adalah gadis penurut yang lemah lembut, sementara Heny adalah gadis yang lebih tegas dan sedikit tomboy. Heny pernah mengintip saat Empeh Wong sedang berlatih silat dan beberapa gerakan yang dihafalnya dipraktekan setiap hari sehingga ia dapat menguasai gerakan tersebut dengan baik. Ternyata hal ini telah menumbuhkan harapan dalam diri Empeh Wong untuk menurunkan semua ilmu yang dimilikinya kepada Heny. Heny yang tidak bersedia harus menghadapi sendiri Empeh Wong untuk menyampaikan penolakannya. Malam ketika Heny harus menemui Empeh Wong, Heny menemukan koper pakaian Helen yang digunakan ketika pergi dari rumah. Kemarahan yang menguasai Heny karena mendapatkan kenyataan bahwa Empeh Wong mengetahui keberadaan Helen, Heny tidak lagi merasa takut menghadapi Empeh Wong. Namun ternyata yang ditemui Heny jauh lebih banyak dari apa yang hanya menjadi dugaannya.

Lalu dimanakah sebenarnya Helen bersembunyi ??
Mengapa pula Empeh Wong harus mengorbankan dirinya sendiri hingga tewas ??

Cerita yang menarik. Ciri khas V. Lestari yang selalu membangun konflik secara perlahan namun tetap menarik untuk diikuti hingga akhir cerita.

-.Miss Kodok.-


View all my reviews

Senin, 07 Januari 2013

Anak PilihanAnak Pilihan by V. Lestari
My rating: 1 of 5 stars

Paul dan Hana, pasangan suami istri yang telah cukup lama berumah tangga dan begitu mendambakan kehadiran seorang anak di antara mereka. Sayangnya hal tersebut bukan hal yang mudah untuk diwujudkan mengingat benih Paul yang kurang bagus untuk bereproduksi. Karena malu mengakui kekurangan yang dimilikinya, Paul mengambil inisiatif untuk mencarikan bibit dari seorang laki-laki lain dengan cara yang sangat tidak lazim (dan tentu saja teramat sangat tidak terpuji) . Ia mencarikan seorang laki-laki yang akan membuahi Hana. Paul menamakan rencananya ini sebagai proyek "anak pilihan". Meskipun dengan berat hati, akhirnya Hana menyetujui juga ide gila yang diusulkan oleh suaminya. Setelah melalui sebuah proses pencarian yang tidak mudah, akhirnya pilihannya jatuh pada seorang pemuda desa yang bernama Waluyo (Yoyo). Karena keluguannya Yoyo sama sekali tidak menyadari bahwa penawaran Paul untuk bekerja di rumahnya hanyalah sebuah alasan untuk menjadikannya sebuah alat penghasil anak semata.

Hana berhasil hamil, tetapi apa yang terjadi diantara Hana dan Yoyo bukanlah semata-mata karena proyek "anak pilihan". Hana dan Yoyo ternyata saling mencintai. Menemukan kenyataan ini, Paul merasa dikhianati dan berencana membunuh Yoyo. Tanpa sepengetahuan Paul, Yoyo ternyata tidak mati. Yoyo hanya mengalami cedera otak dan mengalami amnesia. Ia diselamatkan oleh seorang gadis bernama Murni. Yoyo pun lalu menjalani kehidupan barunya dengan nama Jon.

Delapan tahun kemudian, sepulang dari tugas belajar di Jepang, Paul terkejut menemukan bahwa Dimas, anak yang lahir melalui proyek "anak pilihan" memiliki wajah yang sangat mirip dengan Yoyo. Paul pun mulai dihantui ketakutan akan perbuatannya dulu yang telah membunuh Yoyo. Hal ini membuat Paul menjauh dari Dimas. Suatu kali di sebuah pusat perbelanjaan, Paul bertemu dengan Yoyo yang telah menemukan kembali ingatannya dan menikah dengan Murni. Paul sangat terkejut mengira itu hantu Yoyo. Namun ketika mengetahui Yoyo masih hidup dan sama sekali tak menaruh dendam kepadanya, Paul pun merasa lega.

Seharusnya semua itu membuat Paul bahagia dan menjalani kehidupan yang tenang bersama Hana dan Dimas. Namun Paul bukanlah tipe laki-laki seperti itu. Ia tidak akan puas hanya dengan satu wanita, maka ia pun memulai sebuah petualang baru bersama Meta, sekretarisnya. Tanpa disadarinya hal ini telah membuatnya semakin jauh dari Dimas. Hingga suatu peristiwa menyadarkannya bahwa ia adalah seorang pengkhianat. Ternyata sebagai seorang pengkhianat, dikhianati juga akan menghasilkan kekecewaan dan kemarahan yang membabi buta.

Membaca novel karya V. Lestari tentulah saya mengharapkan sebuah ending yang sama menariknya dengan novel-novel V. Lestari yang lainnya. Sayangnya dalam buku ini saya tidak mendapatkannya. Saya sama sekali tidak menemukan greget pada buku ini. rasa penasaran akan akhir cerita membuahkan sebuah kekecewaan karena ending yang terlalu mudah, datar, dan terasa mengambang. Ending yang terasa sangat tidak pas dan terlalu dipaksakan. Ataukah karena saya tidak menemukan ending seperti yang saya harapkan ??

Entahlah...

-.Miss Kodok.-

View all my reviews

Senin, 17 Desember 2012

Misteri Senandung Tengah MalamMisteri Senandung Tengah Malam by V. Lestari
My rating: 3 of 5 stars

Baca ulang (First read : 28 Juli 1985)

Murni baru saja bercerai dengan suaminya. Kemelut yang melanda rumah tangganya membuat ia lama tak mengunjungi Nek Karnah, neneknya yang tinggal di Panti Wreda Bumi Ayu di Bogor. Nek Karnah lalu menawarinya untuk kembali tinggal di Bogor agar dekat dengannya.

Berbagai masalah yang dihadapinya di kantor membuat Murni mengundurkan diri dan menyetujui usul neneknya tersebut, namun sayang, sebelum keputusannya itu disampaikan, neneknya keburu meninggal dunia akibat serangan jantung. Hal yang sama sekali membuat Murni shock karena pada kunjungannya yang terakhir, ia melihat sang Nenek berada dalam kondidi yang sehat waalafiat.

Di Bumi Ayu pula Murni berkenalan dengan Tante Fifi, sesorang yang dinilai tidak waras oleh penghuni lainnya dikarenakan kebiasaannya menyenandungkan lagu-lagu yang mendirikan bulu roma di tengah malam. Pesan Tante Fifi untuk menemui anaknya di Jakarta membuahkan sebuah hubungan kasih antara Murni dan Bambang, anak Tante Fifi. Selain itu, Murni juga terpaksa berkenalan dengan Agus, suami Tante Fifi yang mempunyai julukan Agus setan karena berwajah seram. Tanpa disangka ternyata Agus Setan adalah pemilik Bumi Ayu tempat Tante Fifi tinggal. Karena perhatiannya yang begitu besar pada Tante Fifi, Agus pun menawarkan sebuah pekerjaan kepada Murni di panti tersebut. Karena belum mendapatkan pekerjaan, maka Murni menerima pekerjaan tersebut, dengan pesan dari Agus agar Murni merahasiakan kepemilikannya akan panti tersebut.

Ternyata begitu banyak peristiwa aneh yang terjadi di panti tersebut, bersama Tante Fifi murni menemukan kejanggalan akan kematian neneknya, Nek Ipah, dan Oma Tan. Kecurigaan jatuh pada Agus, terutama setelah Tante Fifi mengetahui bahwa Agus lah pemilik panti tersebut. Tante Fifi pun menceritakan tragedi yang terjadi antara dirinya dan Agus hingga Agus menjadi cacat dan berwajah menyeramkan. Berniat pergi dari panti tersebut bersama Tante Fifi, Murni mengajukan niatnya untuk berhenti bekerja pada panti tersebut. Dengan berani Murni mengemukakan semua kecurigaannya kepada Agus yang ditanggapi dengan dingin. Di tengah pertengkarannya dengan Agus dan kedua anaknya (Bambang dan Ratna), Murni mendapat telpon dari Bogor yang mengabarkan keadaan Tante Fifi yang tidak juga keluar kamar walaupun telah digedor oleh pengurus panti. Dengan kepanikan yang luar biasa karena mengkhawatirkan keselamatan Tante Fifi, Murni kembali ke Bogor. Tanpa diduga, Agus, Bambang, dan Ratna pun turut serta. Setibanya disana, Murni mendapatkan Tante Fifi yang telah tewas karena bunuh diri.

Sepeninggal Tante Fifi, Murni meneruskan penyelidikannya atas kecurigaannya terhadap berbagai peristiwa kematian yang terjadi di Bumi Ayu. Seseorang yang tidak pernah disangka-sangka ternyata adalah pembunuh yang sebenarnya.

Cerita yang menarik. Seperti biasa, V. Lestari membangun konflik cerita dengan pelan dan menggemaskan. Pembaca diajak menebak siapa sebenarnya dalang dari semua pembunuhan yang terjadi, dan kalau tidak teliti... kita bisa menebak orang yang salah. Sebuah kejutan di akhir cerita.

-.Miss Kodok.-

View all my reviews

Selasa, 11 Desember 2012

Misteri Bunga TasbihMisteri Bunga Tasbih by V. Lestari
My rating: 3 of 5 stars

Baca Ulang (1st read in September 1992)

Lagi kangen sama buku-bukunya mBak V. Lestari

Farida Gunawan, seorang pengarang cerita misteri. Ia terpuruk dalam kesedihan yang teramat mendalam setelah kematian suaminya. Hingga berjalan 2 tahun, kesedihan Farida tak kunjung hilang dan begitu menyiksanya, hingga akhirnya ia memutuskan untuk pindah ke kota lain. Pilihannya jatuh pada kota Bogor, selain dekat dengan Jakarta, kota tersebut juga sejuk dan sangat tenang, selain itu juga masih memudahkan komunikasinya dengan Tommy, anak semata wayangnya yang masih meneruskan pendidikan SMA-nya di Jakarta. Maklum, cerita ini ditulis pada tahun 1990, saat Bogor masih merupakan sebuah kota yang sejuk dan komunikasi tidaklah semudah sekarang karena masa itu belum memasuki era telepon genggam.

Berdasarkan pengalaman hidup seorang tetangganya yang bernama Irawan, naluri Farida untuk menulis kembali muncul setelah vakum semenjak kepergian suaminya. Irawan, yang menurut cerita, ditinggal lari oleh Salmah, istrinya untuk pergi dengan lelaki lain, menjadi ide cerita Farida yang kemudian berkembang menjadi suatu khayalan yang nyata. Terlebih setelah ia melihat serumpun bunga tasbih yang tumbuh di halaman rumah Irawan. Tanaman yang selayaknya sangat mudah tumbuh dan tidak memerlukan perawatan khusus tersebut tampak begitu merana. Cerita yang lahir dari tangan Farida berkembang begitu saja seperti ada yang menuntunnya. Mesin ketik yang telah lama menganggur kini kembali aktif bekerja. Tommy pun tampak senang dengan perubahan ini. Tanpa disangka, semua ini justru menimbulkan kegelisahan dalam diri Irawan. Sementara di sisi lain, Irawan telah jatuh cinta pada Farida (dan begitu pula sebaliknya). Lalu apa cerita sesungguhnya dari kehidupan rumah tangga Irawan dan Salmah. Benarkah Salmah meninggalkan Irawan dan lari dengan laki-laki lain ? Lalu apa hubungannya dengan serumpun bunga tasbih yang begitu menarik perhatian Farida hingga ia harus menjadi pencuri guna menyelamatkan bunga tersebut ?

Cerita dibangun dengan konflik yang menarik khas V. Lestari. Konflik cerita dibangun lambat tapi menggemaskan. Pembaca diajak berfikir dan menebak-nebak apa yang sesungguhnya terjadi, sehingga sulit untuk berhenti hingga cerita berakhir.

I like it.

-.Miss Kodok.-



View all my reviews